Selasa, 15 Maret 2011

WANITA SHOLEHA



Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa kisah dari sekian banyak peristiwa yang patut kita teladani, semoga dapat menjadi pelajaran yang berharga, sehingga kita dapat memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya dan semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur, karena begitu banyak nikmat yang telah Allah kurniakan, agar kita tidak lupa diri, marilah mengevaluasi diri agar kita mampu melaksanakan kehidupan ini dengan bijak.
Dahulu di zaman Rosulullah, mengkisahkan seorang wanita yang memiliki tiga orang anak, sedangkan suaminya sudah meninggal dunia, dengan penuh kasih sayang dan kesabaran dia merawat ketiga orang putranya itu yang mulai memasuki masa remaja, ketiga putranya itu tumbuh menjadi pemuda yang sangat gagah, suatu ketika Rosulullah memerintahkan umatnya untuk berangkat kemedan perang, lalu ibu itu mengirim seorang anaknya untuk ikut berperang bersama Rosulullah, setelah perang usai, si ibu menanti kehadiran anaknya, kembali dari medan perang, penantian itu terjawab dengan kehadiran seorang laki-laki yang membawa kabar kalau anaknya wafat di medan perang. Beberapa lama kemudian Rosulullah memerintahkan perang lagi, si ibu itu pun mengutus anaknya untuk berperang bersama Rosulullah, rupanya nasib anaknya yang kedua ini sama dengan kakaknya, dia meninggal di medan perang. Ketika perintah perang yang ketiga datang, si ibu itupun kembali mengirim anaknya pergi berangkat ke medan juang, setelah perang usai, anaknya yang ketiga ini pun tidak pernah kembali lagi, karena beliaupun wafat di medan perang, saat itu tersiar berita si ibu sedang menangis, maka datanglah Rosulullah untuk menemuinya, saat itu Rosulullah bertanya, “ya... ibu..., kenapa ibu menangis?, si ibu tidak mampu menjawab, hanya terdengar isak tangisnya yang memadati ruangan, lalu rosulullah, mencoba bertanya kembali, “ya... ibu..., apakah engkau menyesal karena kehilangan ketiga orang anak mu?”, lalu si ibu itupun menarik nafasnya panjang-panjang, dan dia berkata, “ya... Rosulullah, saya memang bersedih karena di tinggal oleh ketiga putra yang sangat saya sayangi, tapi yang perlu Rosulullah ketahui, kalau ketiga putra saya ikhlas mempertaruhkan jiwa raganya untuk membela Agama Allah, ibunyapun seperti itu ya... Rosulullah, saya memang menangis, saya memang bersedih tapi bukan menyesali dengan apa yang sudah terjadi, yang saya tangisi hari ini adalah di kala sisa umur dan disisa tenaga yang saya miliki..., Engkau tidak berkenan untuk mengajak umatmu yang renta ini membela Agama Allah, ya... Rosulullah”. Mendengar jawaban itu Rosulullah tersenyum dan berkata, “Enkaulah ahli syurga”.
Cerita yang kedua ini adalah mengkisahkan seorang ibu yang baru memiliki satu anak, sedang suaminya berangkat ke medan perang, dalam kesendiriannya dia harus menjaga kehormatan rumah tangganya dan dalam kesendiriannya itupun dia harus menjaga buah hatinya dan mempertahankan hidup di tengah keadaan ekonomi yang pas-pasan, suatu ketika anaknya sakit keras, dia panik menghadapi situasi seperti ini, dia bingung harus berbuat apa, tapi tangan lembutnya dengan sigap meraih dan memeluk anaknya, diapun mulai melangkahkan kakinya menerobos kegelapan malam menuju rumah seorang Tabib, tapi di tengah perjalanan anaknya menghembuskan nafas yang terakhir, si ibu berteriak sejadi-jadinya, suaranya membahana, menggema di tengah belantara kesendiriannya, tangannya bergetar, namun tetap kokoh memeluk putra kesayangannya, kakinya tak mampu lagi berdiri, dia jatuh terduduk sambil terus memeluk anaknya, bibirnya bergetar, tak mampu mengeluarkan kata-kata, kecuali kalimat tauhid, “Lailahailallah”, menjadi tahlil ditengah keruntuhan hati yang mencoba untuk bangkit, air matanya terus mengalir, bagaikan butiran mutiara yang berkilau memancarkan kasih seorang ibu yang tiada terkira, dalam keadaan itu dia mencoba untuk tersenyum, untuk menata hati yang sedang berkecamuk, lalu dia berkata dalam hatinya, “ ya... Allah, buatku ini adalah ujian yang teramat berat dan dalam kesendirianku, aku yakin Engkau ada, tapi entah kenapa gejolak dihati tak mudah ku kuasai, ya... Allah... berikanlah kekuatan-Mu, karena aku yakin Engkau tidak akan menguji hambu-Mu yang diluar batas kemampunnya, ya... Allah peliharalah iman didalam hatiku, berilah aku katabahan dan kekuatan, karena aku harus mempertanggung jawabkan amanah ini kehadapan-Mu, dan juga suamiku, ya... Allah rupanya cahaya-Mu terus membimbingku, dan ayat-ayat-Mu menentramkan jiwaku, amien”.
Beberapa hari kemudian suaminya pulang dari medan perang, dia menyambut kehadiran suaminya itu dengan penuh suka cita, seperti biasanya, dia menyiapkan dua baskom air hangat dan sehelai handuk kecil, untuk membasuh muka yang kotor agar kembali segar karena penat melaksanakan tugas yang berat dan merendam kaki, sehingga kehangatan air itu mampu mengendurkan syaraf-syaraf yang kaku karena perjalanan jauh, lalu dihidangkan makanan seadanya, suaminya menyantap makanan itu dengan sangat nikmat karena sambutan hangat dari istrinya itulah yang membuat selera makan jadi meningkat, setelah suasananya tenang, barulah dia memulai pembicaraan, “Ya suami ku..., bagaimana pendapatmu, jika ada orang yang menitipkan barang kepada kita, lalu dia ingin mengambilnya?”, lalu suaminya itu menjawab, “Ya... istriku, barang itu harus kita kembalikan, karena itu bukan milik kita”. Sejenak suasananya menjadi hening, karena dia ragu untuk melanjutkan kata-katanya, melihat keadaan itu suaminya jadi khawatir dan spontan bertanya, “Anak kita kemana?”, lalu dia menjawab, “Ya... suamiku, seperti ceritaku tadi, sesungguhnya anak yang telah Allah titipkan pada kita, beberapa hari yang lalu, Dia telah mengambilnya, anak kita telah berpulang kerahmatullah”. Suaminya diam seribu basa, matanya menerawang jauh kedepan dan dia pun tak kuasa menahan air matanya, lalu dia memeluk istrinya sambil berkata, “Ya... Allah... hari ini aku sangat berduka karena kehilangan putra kesayanganku, tapi tangisanku inipun juga tangisan bahagia, karena ketika aku sedang menjalankan tugas-Mu, di rumahku pun, istriku juga berjuang mengendalikan gejolak perasaannya untuk menghadapi ujian yang sangat berat, aku bangga telah mendapatkan kemenangan di medan juang, tapi yang lebih membanggakan adalah..., karena istriku bahkan telah mendapatkan kemenangan yang besar, karena telah berhasil mengendalikan dirinya, dan menjaga nilai-nilai iman yang menjadi begitu indah dalam dirinya”. Istrinya pun tersenyum bahagia merasakan nikmatnya menjalani hidup yang sesuai dengan ajaran ilahi.
Keesokan hari suaminya itu menghadap Rosulullah dan menceritakan semua kejadian itu dan Rosul pun mendengarkan dengan penuh seksama, lalu Beliau berkata, “Engkau adalah laki-laki yang sangat beruntung, karena Allah telah memberikan pendamping hidupmu, seorang perempuan yang tangguh yang memenuhi kriteria sebagai wanita sholehah”, lalu Rosul tersenyum, seraya berkata, ”Dialah ahli syurga”.
Kisah yang ketiga adalah Seseorang bercerita pada saya, dia pernah bertemu dengan seorang wanita yang sedang duduk disisi sebuah makam, hampir setiap pekan dia selalu datang mengunjungi makam itu dan dalam setiap kunjungannya itu dia selalu menangis. Biasanya orang itu hanya lewat melintasi pemakaman untuk berangkat kerja, karena rasa penasaran selalu melihat wanita itu, akhirnya diapun mencoba mendekatinya dan bertanya, “Ibu sedang apa di sini?, lalu wanita itu menoleh kearah orang itu, sambil berkata, “Saya sedang mengunjungi ibu”, lalu orang itu bertanya kembali, “Apakah ini makam orang tua ibu?”, wanita itu menggelengkan kepala dan berkata, “Ibu saya memang sudah meninggal, tapi saya tidak tahu dimana pusaranya, dia hanyut bersama gelombang tsunami yang menenggelamkan desa”, lalu orang itu bertanya lagi, “Kenapa ibu terus menangis?”, dengan terisak-isak wanita itu menjawab, “Karena hanya ini yang bisa saya lakukan, sebagai wujud penyesalan yang tak berkesudahan, karena saya belum sempat, bersimpuh dihadapannya dan meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan, sekarang setelah saya punya anak, saya bisa merasakan betapa khawatirnya seorang ibu akan keselamatan anaknya, betapa rindunya seorang ibu akan kehadiran buah hatinya yang sangat ia sayangi, tapi ketika kesadaran itu tumbuh di dalam hati ini, semuanya sudah terlambat, karena ibu saya sudah tidak ada di dunia ini, saya belum sempat berterima kasih kepadanya, saya belum sempat membahagiakannya dan saya belum sempat melihat senyuman dibibirnya, karena dahulu ketika beliau melepaskan saya pergi merantau, saya hanya melihat untaian air mata mengiringi kepergian saya”. Setelah mendengar penjelasan dari wanita itu, keesokan harinya dia minta izin cuti kerja, khusus menemui ibunya, mumpung beliau masih ada, dia ingin meminta maaf, karena ingin langsung mendapat jawaban dari ibunya.
Dari uraian di atas semestinya menyadarkan diri kita akan pentingnya seorang ibu yang telah sangat berjasa dalam kehidupan ini, curahan kasih sayang yang mengalir tanpa henti, do’anya selalu menyertai kemanapun kita pergi, jika beliau masih hidup, temuilah dia sebagai wujud bakti kita kepadanya dan buatlah kerutan diwajahnya berkurang, berganti dengan senyuman bahagia menyambut kedatangan buah hatinya yang selama ini ia rindukan, karena baginya seberapapun usia kita, kita tetap anaknya yang kecil dan lucu yang selalu ingin ia manjakan dan selalu ingin mendekapnya, buatlah kehidupan kita lebih berkah berkat ridhonya, karena Rosulullah pernah bersabda:
Ridhollahi fi ridhol walidain wasukhtullahi fi sukhtil walidain
Ridho Allah tergantung ridhonya kedua orang tua dan murka Allah pun tergantung murkanya kedua orang tua. (Al hadits)
Dan sekaranglah saatnya, seorang anak menunjukan kasih sayangnya pada orang tua dengan tetap menghormatinya dan memperlakukannya dengan baik, karena Allah-pun memesankan pada kita dalam QS. Luqman 31:14
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.
  Dan sekarang juga saatnya, kita hiasi diri kita dengan cinta kasih dan kesabaran untuk tetap berbuat baik kepada orang tua, marilah kita resapi pesan Allah dalam QS. Al-Israa' 17:23
Dan Tuhan-Mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Semakin jauh kita memahami peranan seorang ibu, peranan seorang istri, peranan seorang perempuan yang terkaper dengan gelar wanita sholehah, maka semakin kagumlah kita dan semakin menaruh rasa hormat, karena mereka sangatlah berkontribusi besar untuk keselamatan generasi yang akan datang, dengan langkah-langkahnyalah meninggalkan jejak, sehingga menjadi petunjuk arah yang jelas menuju kehidupan yang penuh kedamaian, meraih kebahagiaan duniawi maupun ukhrowi.
Aljannatu tahta aqdamil ummahaati
Syurga itu di bawah telapak kaki ibu (al hadits)
Dengan akhlakmu yang luhur, berdampak besar untuk ketahanan sebuah Bangsa, kokohnya sebuah Negara karena kokohnya nilai-nilai iman yang tertanam dengan sempurna di tiap-tiap diri, ini semua berkat teladan darimu... Ibu.
Almar’atu ‘imadul bilad
Perempuan itu tiang Negara (Al hadits)
Demikianlah uraian dari kami semoga menjadi persembahan terindah untuk seorang Ibu, sebagai ucapan terimakasih yang tiada terhingga, “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil”, amien-amien ya robbal’alamin.

 Harga dimulai dari Rp.50.000- Rp.85.000
buruan beliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar